Tuesday, January 6, 2009

Tragedi Karbala 10 Muharram 61 H

Tragedi Karbala 10 Muharram 61 H adalah peristiwa yang paling tragis dalam sepanjang sejarah hidup manusia. Peristiwa paling tragis ini menimpa cucu tercinta Rasulullah saw dan kelarganya, yaitu Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib (sa).

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi malaikat Jibril telah memberitakan kepada Rasulullah saw. Ummu Salamah isteri tercinta Rasulullah saw menuturkan: Ketika hendak tidur Rasulullah saw gelisah, ia berbaring kemudian bangun, berbaring lalu bangun lagi. Aku bertanya kepadanya: Mengapa engkau gelisah ya Rasulallah? Rasulullah saw menjawab: “Baru saja Jibril datang kepadaku memberitakan bahwa Al-Husein akan dibunuh di Karbala. Ia membawa tanah ini dan simpanlah tanah ini. Jika tanah ini warnanya berubah menjadi merah pertanda Al-Husein telah terbunuh.” Ummu Salamah menyimpan tanah itu.

Riwayat dalam versi yang lain tentang bahwa Jibril (as) datang kepada Rasulullah saw membawa tanah Karbala, berikut sumbernya dalam kitab2 Ahlussunah, klik disini

Al-Husein (sa) mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat Nabi saw yang masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya. Sebelum meninggalkan kota Madinah, Al-Husein (sa) pergi berziarah ke pusara kakeknya Rasulullah saw. Di kubur Kakeknya ia membaca doa dan menangis hingga larut malam dan tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi Rasulullah saw datang kepadanya, memeluknya dan mencium keningnya. Dalam mimpinya Rasulullah saw berpesan: “Wahai Husein, ayahmu, ibumu dan kakakmu menyampaikan salam padamu, mereka rindu kepadamu ingin segera berjumpa denganmu. Wahai Husein, tidak lama lagi kamu akan menyusulku dengan kesyahidanmu.” Lalu Al-Husein terbangun.

Al-Husein (sa) mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat Nabi saw yang masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya. Sebelum meninggalkan kota Madinah, Al-Husein (sa) pergi berziarah ke pusara kakeknya Rasulullah saw. Di kubur Kakeknya ia membaca doa dan menangis hingga larut malam dan tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi Rasulullah saw datang kepadanya, memeluknya dan mencium keningnya. Dalam mimpinya Rasulullah saw berpesan: “Wahai Husein, ayahmu, ibumu dan kakakmu menyampaikan salam padamu, mereka rindu kepadamu ingin segera berjumpa denganmu. Wahai Husein, tidak lama lagi kamu akan menyusulku dengan kesyahidanmu.” Lalu Al-Husein terbangun.

Di kubur kakeknya Al-Husein berjanji dan bertekah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, menyampaikan Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Ia mendatangi keluarganya dan mengajak sebagian sahabat-sahabat Nabi saw yang masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya.

Ketika akan meninggalkan kota Madinah menuju ke Irak, Al-Husein berpamitan kepada Ummu Salamah, ia menangis dan mengantarkannya dengan linangan air mata, ia terkenang saat bersama Rasulullah saw dan teringat pesan yang disampaikan kepadanya.

Kini Al-Husein dan rombongannya berangkat menuju Irak. Karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh, Al-Husein dan rombongan yang tidak lebih dari 73 orang berhenti di padang Karbala. Rombongan Al-Husein (sa) terdiri dari keluarganya dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka memancangkan kemah-kemah di padang Karbala untuk berteduh dari sengatan panas matahari dan istirahat karena lelahnya perjalanan yang cukup jauh.

Deru suara kuda terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelas bahwa suara itu adalah suara deru kuda pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya ribuan. Rombongan Al-Husein yang jumlahnya tidak lebih dari 73 orang terdiri dari: anak-anak kecil dan wanita dari keluarganya, dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka harus berhadapan dengan ribuan pasukan Ibnu Ziyad gubernur pilihan Yazid bin Muawiyah.

Karena jauhnya perjalanan Al-Husein dan rombongannya kehabisan bekal. Mereka dalam keadaan haus dan lapar. Sebagian dari mereka berusaha mengambil air dari sungai Efrat, tapi mereka dihadang oleh pasukan Ibnu Ziyah. Mereka tetap berusaha keras mengambil air untuk dipersembahkan kepada Al-Husein dan keluarganya serta rombongan yang kehausan. Tapi mereka gagal karena diserang oleh anak-anak panah pasukan Ibnu Ziyah, dan mereka berguguran menjadi syuhada’.

10 Muharram 61 H, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu Ziyad mulai melakukan serangan pada rombongan Al-Husein yang dalam keadaan haus dan lapar. Salah seorang pasukan melancarkan anak panah pada leher anak Al-Husein yang masih bayi dan berada dalam pangkuan ibunya, sehingga mengalirlah darah dari lehernya dan meninggallah bayi yang tak berdosa itu.

Pada sore hari 10 Muharram 61 H, pasukan Al-Husein banyak yang berguguran. Sehingga Al-Husein (sa) tinggallah seorang diri dan beberapa anak-anak dan wanita. Dalam keadaan haus dan lapar di depan pasukan Ibnu Ziyad , Al-Husein (sa) berkata: “Bukalah hati nurani kalian, bukankah aku adalah putera Fatimah dan cucu Rasulullah saw. Pandanglah aku baik-baik, bukankah baju yang aku pakai adalah baju Rasululah saw.”

Tapi sayang seribu sayang karena emeng-emeng hadiah jabatan dan materi dari Ibnu Ziyah dan Yazid bin Muawiyah, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu Ziyad tidak memperdulikan ajakan Al-Husein (sa), mereka menyerang Al-Husein yang tinggal seorang diri. Serangan itu disaksikan oleh Zainab (adiknya), Syaherbanu (isterinya), Ali bin Husein (puteranya), dan rombongan yang masih hidup yang terdiri dari wanita dan anak-anak. Pasukan Ibnu Ziyad melancarkan anak-anak panah pada tubuh Al-Husein, dan darah mengalir dari tubuhnya yang sudah lemah. Akhirnya Al-Husein terjatuh di tengah-tengah mayat para syuhada’ dari pasukannya.

Melihat Al-Husein terjatuh dan tak berdaya, Syimir dari pasukan Ibnu Ziyah turun dari kudanya, menginjak-injakkan kakinya ke dada Al-Husein, lalu menduduki dadanya dan menghunus pedang, kemudian menyembelih leher Al-Husein yang dalam kehausan, sehingga terpisah lehernya dari tubuhnya.

Duhai manusia yang mengaku umat Rasulullah saw, mengapa kalian tidak membela Al-Husein (sa)? Padahal Rasulullah saw pernah berpesan: “Puteraku ini (Al-Husein) akan dibunuh di Karbala, barangsiapa yang menyaksikannya, maka tolonglah dia.”
(Al-Ishabah, Ibnu Hajar, jilid 1: 68, hadis ke 266)
Lebih detail tentang hadis ini dan rujukannya, klik di sini

Menyaksikan pristiwa paling tragis itu Zainab, isteri Al-Husein dan anak-anak kecil menangis dan menjerit. Tidak hanya itu kekejaman Syimir, ia melemparkan kepala Al-Husein (sa) yang berlumuran darah ke dalam kemah Zainab. Semakin histeris tangisan Zainab dan keluarganya menyaksikan kepala Al-Husein yang berlumuran darah berada di dekatnya.

Zainab Al-Kubra (sa) menangis dan menjerit, jeritannya memecah suasana duka. Ia merintih sambil berkata: Oh… Husein, dahulu aku menyaksikan kakakku Al-Hasan meninggal diracun oleh orang terdekatnya, dan kini aku harus menyaksikan kepergianmu dibantai dan disembelih dalam keadaan haus dan lapar.

Padahal Rasul yang agung berpesan kepada kita, tidak boleh menyembelih binatang ternak yang dalam kehausan. Sementara engkau ya Husein, disembelih dalam keadaan haus yang tidak diberi setetes pun air.

Ya Allah, ya Rasullallah, saksikan semua ini. Al-Husein telah meninggalkan kami dibantai di Karbala dalam keadaan haus dan lapar. Dibantai oleh umatmu yang mengharapkan syafaatmu. Ya Allah, ya Rasulallah Akankah mereka memperoleh syafaatmu sementara mereka menghinakan keluargamu, dan membantai Al-Husein yang paling engkau cintai?

10 Muharram 61 H, bersamaan akan tenggelamnya matahari, mega merah pun mewarnai kemerahan ufuk barat, saat itulah tanah Karbala memerah, diwarnai merah darah Al-Husein (sa) dan para syuhada’ Karbala. Bumi menangis, langit dan penghuinya berduka atas kepergian Al-Husein (sa) pejuang kebenaran dan keadilan.

Dari sebagian sumber riwayat menuturkan bahwa sejak kepergian Al-Husein dari Madinah Ummu Salamah selalu memperhatikan tanah yang dititipkan oleh Rasulullah saw, saat Al-Husein terbunuh tanah itu berubah warna menjadi merah, Ummu Salamah menangis, teringat pesan Rasulullah saw dan terkenang saat-saat bersamanya.

Kini rombongan Al-Husein (sa) yang masih hidup tinggallah: Zainab dan isteri Al-Husein, Ali putra Al-Husein (sa) yang sedang sakit, anak-anak dan wanita. Mereka diikat dan rantai, digiring dalam keadaan haus dan lapar, dari karbala menuju kantor gubernur Ibnu Ziyad yang kemudian mereka digiring ke istana Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Dalam keadaan lemah, lapar dan haus, mereka dirantai dan digiring di sepanjang jalan kota Kufah. Mereka disaksikan oleh penduduk Kufah yang berbaris di sepanjang jalan. Mereka menundukkan kepala, malu dengan sorotan mata para penonton yang memandangi mereka.

Kini sisa rombongan Al-Husein digiring ke istana Yazid bin Muawiyah. Sebagian pasukan membawa kepala Al-Husein untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah. Dengan mempersembahkan kepala Al-Husein dan tawanan wanita dan anak kecil yang sebagian dari mereka adalah cucu dan keturunan Nabi saw, mereka berharap mendapatkan imbalan jabatan dan materi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Yazid bin Muawiyah. Kini tiba saatnya Yazid, Ibnu Ziyad, para pejabat dan pasukannya berpesta di istana, merayakan kemenangannya.

Duhai para pejuang kebenaran dan keadilan, hati siapa yang tidak terluka dan berduka menyaksikan tragedi Karbala?

Duhai para pecinta Rasulullah dan keluarganya, hati siapa yang tidak merasa sedih dan iba menyaksikan keluarga Nabi saw dirantai dan digiring di sepanjang jalan kota Kufah
dalam keadaan haus dan lapar lalu dihinakan di istana Yazid bin Muawiyah?

Duhai umat Rasulullah saw, peristiwa apalagi dalam sejarah manusia yang lebih tragis dari peristiwa yang menimpa kelurga suci Rasulullah saw di Karbala?

Duhai kaum yang lemah dan tertindas, hati siapa yang tidak bangkit untuk melawan penindasan bila menyaksikan pembantaian terhadap para pejuang keadilan dan kebenaran.

Mengapa kita tidak dibangkitkan oleh semangat darah Al-Husein dan para syuhada’ Karbala, untuk melawan penindasan dan kezaliman?

Duhai kaum muslimin dan mukminin umat Rasulullah saw, masih adakah hati yang keberatan menyampaikan salam dan ziarah kepada Al-Husein (sa) dan para syuhada’ Karbala? Mari kaum muslimin, para pecinta kebenaran dan keadilan kita ucapkan salam:

اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَيْنِ
Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn wa ‘alâ ashhâbil Husayn.

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua putera Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein.
sumber:http://shalatdoa.blogspot.com/

3 comments:

Anonymous said...

Kita semua sedih setap terkenang peristiwa terbunuhnya keluarga Kekasih Alloh. Sejarah sudah mengoreskan tinta emasnya.. Hanya orang yang tak barhati nurani saja yang menganggapnya sebagai peristiwa biasa. Hanya muslim yang rusak iman dan akidahnya yang menyangkalnya.
Tapi apa ini bisa dijadikan pijakan bagi firqoh akidah yang baru?... yang terlalu mengkultuskan alhlu bait Nabi dengan mengabaikan keutamaan para sahabat yang lainnya yang oleh Nabi sendiri dijanjikan jannah... Sadarlah sebenarnya syiah itu hanya firqoh politik saja awalnya. Setelah masa itu berlalu... dan rejim yang keji itu tumbang seharusnya firqoh politik itu bubar. Bukan malah terus menjual "barang usang" dengan rasa iba yang berlebihan.
Insya Alloh ahlu bait Nabi akan mendapatkan kedudukan mulia sesuai amalan mereka.. Dan yang berlaku dzolimpun akan mendapatkan balasannya. Jika kita terlalu berlebih membela ahlu bait hakekatnya kita tidak pernah percaya dengan janji Alloh... "Barangsiapa berbuat kebaikan walaupun sebesar zarrah akan mendapatkan balasan. Dan barangsiapa berbuat keburukan walaupun sebesar zarrah akan mendapatkan balasan."
Sesungguhnya janji Alloh pasti terjadi.

Anonymous said...

Kita semua sedih setap terkenang peristiwa terbunuhnya keluarga Kekasih Alloh. Sejarah sudah mengoreskan tinta emasnya.. Hanya orang yang tak barhati nurani saja yang menganggapnya sebagai peristiwa biasa. Hanya muslim yang rusak iman dan akidahnya yang menyangkalnya.
Tapi apa ini bisa dijadikan pijakan bagi firqoh akidah yang baru?... yang terlalu mengkultuskan alhlu bait Nabi dengan mengabaikan keutamaan para sahabat yang lainnya yang oleh Nabi sendiri dijanjikan jannah... Sadarlah sebenarnya syiah itu hanya firqoh politik saja awalnya. Setelah masa itu berlalu... dan rejim yang keji itu tumbang seharusnya firqoh politik itu bubar. Bukan malah terus menjual "barang usang" dengan rasa iba yang berlebihan.
Insya Alloh ahlu bait Nabi akan mendapatkan kedudukan mulia sesuai amalan mereka.. Dan yang berlaku dzolimpun akan mendapatkan balasannya. Jika kita terlalu berlebih membela ahlu bait hakekatnya kita tidak pernah percaya dengan janji Alloh... "Barangsiapa berbuat kebaikan walaupun sebesar zarrah akan mendapatkan balasan. Dan barangsiapa berbuat keburukan walaupun sebesar zarrah akan mendapatkan balasan."
Sesungguhnya janji Alloh pasti terjadi.

Anonymous said...

there is 2 version of tragedi karba..once from syiah n other form sunni.This syiah version.check out the other version.

Jalan-Jalan ke Bangkok Thailand (Bagian Pertama)

Dulu aku sering komentarin temen yang jalan-jalan ke Bangkok, kupikir apa sih yang dicari karena Bangkok kan sama-sama negara berkemban...